Jumat, 16 Juli 2010

KPK ( Ka'bah Pedoman Kiblat )

"Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dari Tuhanmu.” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 149).

Ka’bah telah berdiri cukup lama di Tanah Arab sebagai pusat arah/ pemersatu bagi umat Islam sedunia dalam melaksanakan ibadah.

Umat Islam telah diatur oleh Allah swt sedemikian rupa, sehingga Ka’bah memiliki simbol multi dimensi sebagai kesatuan arah, satu tujuan, satu pemikiran, satu aqidah, satu Tuhan, satu Kitab yang juga merupakan satu titik tumpuan. Di pelosok dunia manapun, umat Islam wajib hukumnya untuk menghadapkan wajahnya ke arah Ka’bah (Masjidil Haram), ketika mendirikan sholat atau syariat lainnya. Bila tubuh kita tidak menghadap ke arah Ka’bah, maka sholatnya tidak sah. Kecuali sholat di atas kendaraan atau memang tak tahu arah. Dengan demikian, maka arah yang menuju ke Masjidil Haram merupakan ketentuan yang pasti (haq) dari Allah swt dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Firman Allah swt :
“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”(QS Al-Baqarah[2] : 144).

MASALAH ARAH KIBLAT


Melihat lokasi ummat yang bertebaran di muka bumi ini dengan segala bentuk geografisnya, maka ada beberapa alasan/ tempat yang agak sulit untuk menetapkan akurasi arah kiblat, sbb :
1. Jalan atau gang yang berbelok-belok dan agak serong tak beraturan.
2. Bangunan masjid, musholla, rumah disesuaikan dengan lurusnya jalan.
3. Di lapangan yang terbentang luas.
4. Di stadion olah raga yang bentuk bangunannya bulat.
5. Di atas kapal yang sedang lego jangkar (di tengah laut).
6. Di tempat-tempat yang masih asing dan tidak ada orang tempat bertanya.
7. Di tepi pantai yang bentuknya berliku-liku.
8. Di tengah perjalanan baik di darat, di laut dan di udara.
9. Pergeseran lapisan bumi.
10. Bangunan masjid lama yang penentuan arah kiblatnya atas dasar perkiraan.

ILMU FALAKIYAH


Al-Falak sebagai ilmu hitungan atas dasar geografis dan astronomis merupakan bahan kajian (ijtihad) bagi tiap muslim, agar pelaksanaan ibadah dapat dilakukan secara tepat waktu dan tepat arah.

APLIKASI ARA

H KIBLAT


Semua benda angkasa selalu bergerak kontinyu baik berputar pada porosnya seperti gasing dan berjalan sesuai garis edarnya secara 3 dimensi. Termasuk di antaranya bulan, bumi dan matahari yang ketiga-tiganya dijadikan pedoman untuk penentuan waktu shalat, larangan shalat, jadwal puasa, pergantian bulan dan tahun serta penentuan arah kiblat. Khusus untuk arah kiblat, aplikasinya bisa digunakan untuk arah bangunan masjid/ musholla bila lahannya luas, arah shalat dan untuk menentukan arah menidurkan jenazah baik di rumah maupun posisi di pemakaman.

WAKTU PERPUTARAN MATAHARI


Teori menunjukkan bahwa bumi mengelilingi matahari secara konstan dan masing-masing juga beredar sesuai garis edarnya. Oleh karena ummat manusia berada di bumi, maka seakan-akan bumi kita diam dan matahari-lah yang berjalan.
Firman Allah :
“Dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan.” (Q.S. Luqman [31] : 29). Sesuai pengamatan, setahun matahari berputar sebanyak 365,2425 hari atau 365 hari 5 jam 49 menit 12 detik. Karena angka ini ganjil, maka pada tahun Kabisat dibuat berumur 366 hari, sedangkan tahun Basithoh berumur 365 hari. Tiap 4 tahun sekali, satu tahun berumur 366 hari dan selama tiga tahun berumur 365 hari. Perputaran rutin inilah, maka kita dapat menghitungnya secara tetap untuk berbagai kepentingan.

GARIS EDAR MATAHARI


Peredaran matahari di atas bumi melilit dan mondar mandir tak pernah berhenti di seputar 23,5° Lintang Selatan sampai 23,5° Lintang Utara. Firman Allah : “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Yasin [36] : 38).

MATAHARI DI ATAS KA’BAH


Ka’bah yang posisinya 21° 25’ 21” Lintang Utara, 39° 49’ 34” Bujur Timur, akan dilintasi matahari tepat di atasnya pada tiap tanggal :
28 Mei pukul 12.18 waktu Saudi (16.18 WIB).
16 Juli pukul 12.27 waktu Saudi (16.27 WIB).
Oleh karena dilintasi 2 kali setahun, maka tanggal tersebut diperingati sebagai Yaumu ar Rasdi al Qiblah (Hari Penentuan Arah Kiblat)

MENGAMATI BAYANGAN


Dengan terjadinya matahari tepat di atas Ka’bah, maka secara rutin (tetap) semua bayangan benda tegak di setengah dunia akan tertuju ke arah Kiblat. Allah swt telah memberikan isyarat :
“Apakah kamu tidak memper-hatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagai-mana Dia memanjangkan (dan memen-dekkan) bayang-bayang; dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu.” (Q.S.Al-Furqan [25] : 45). Bayangan itu dialami juga di Jakarta dan di kota-kota lainnya. Waktu tersebut adalah titik tengah dan masih ada waktu toleransi 2 hari sebelum dan 2 hari sesudahnya serta ± setengah jam sebelum dan sesudahnya.


Arah kiblat berdasarkan bayangan ini adalah cara alamiah, mudah, murah dan tanpa harus mendatangkan ahli falakiyah.

RASDU AL QIBLAH


Menurut perhitungan, khususnya di Jakarta dan sekitarnya, sudut yang mengarah ke Kiblat adalah Azimuth 295,1°.


Pada sudut ini, setiap hari matahari akan melintasi posisi ini. Sehingga untuk mengukur arah Kiblat tidak hanya tanggal 28 Mei dan 16 Juli, melainkan pada jam-jam tertentu.

GARIS SHAFF


Untuk memberikan kemudahan dalam menentukan garis shaff yang akurat, tiap hari pada jam tertentu, kita dapat mengamati bayangan benda tegak, ketika posisi matahari berada
pada Azimuth 25,1°





BAGAIMANA CARANYA ?


1. Tancapkan tiang tegak lurus atau manfaatkan dinding bangunan, yang memungkinkan terjadinya bayangan.
2. Stel jam anda secara benar (RRI).
3. Tunggu waktu sesuai jadwal.
4. Lihat tabel jam Kiblat di atas, amatilah arah bayangan yang tertuju ke matahari, itulah arah Kiblat yang akurat.
5. Lihat tabel jam Shaff di atas, amatilah arah bayangan, itulah arah garis shaff sholat kita yang akurat.

Rabu, 20 Januari 2010

AIR SUMBER KEHIDUPAN












Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, ……".(Q.S. Al-An'aam [6] : 99).

Sudah menjadi sunnatullah, bahwa hanya planet bumi- lah yang sampai saat ini memiliki sumber air.

Allah SWT menganugerahkan sumber daya alam tak bisa lepas dari air. Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan membutuhkan air terus menerus, sebab Allah menghidup-kannya dari air, sesuai firmanNya :

"Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup." (Q.S. Al-Anbiyaa' [21] : 30).

Sesuai kapasitas makhluk di muka bumi, turunnya air dari langit diukur dan dikendalikan oleh Allah SWT. Firman Allah :

"Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu Kami tempatkan di bumi." (Q.S.Al-Mu'minun [23] : 18).

Menurut hitungan para peneliti, bahwa tiap tahun atmosfer bumi membentuk kelembaban 417.000 km kubik. 146.000 km kubik turun ke daratan sebagai hujan, salju dan embun. Sebagian besar meresap ke dalam tanah untuk menghidupi pepohonan dan sebagian lagi menguap. Tetapi sekitar 38 triliun meter kubik air dari langit mengisi laut. Sedangkan volume laut itu sendiri mencapai ± 1,4 milyar km kubik.
Dari sinilah luapan air tahun demi tahun menjadi sarana hebat untuk mengukir pantai.

AIR GUNUNG

Peranan air bukan hanya pengukir daratan, melainkan juga pembawa butiran zat-zat kimia. Warna kali gunung yang bening mengalir deras ke sungai besar, berubah menjadi arus coklat lalu bercabang ke tiap anak sungai. Kali dari gunung yang terjal mengalir dengan kecepatan 3 meter per detik, tidak hanya menghanyutkan larutan mineral, tetapi menggelindingkan bebatuan, kerikil, dan kandungan lainnya termasuk lahar. Ketika sampai di lereng yang landai, maka partikel tersebut akan tertinggal dan mengendap di berbagai tempat yang bervariasi. Arus semacam ini akan membawa manfaat yang besar bagi manusia. Mekanisme inilah pada gilirannya akan menyediakan endapan emas, timah, platina, kesuburan tanah, dll yang dapat memberikan kesejahteraan bagi ummat manusia pada generasi berikutnya.

AIR DARI LANGIT

Firman Allah :

"Dan Kami turunkan air dari langit yang membawa berkah, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun dan biji-bijian untuk diketam." (Q.S. Qaaf [50] : 9).

Pada intinya, air yang membasahi bumi semata-mata untuk dihisap oleh tetumbuhan, kebun dan hutan serta diminum oleh manusia dan hewan agar mereka dapat hidup sehat sesuai komposisi tubuh yang terukur. Oksigen yang dikeluarkan oleh pepohonan dibutuhkan oleh manusia dan hewan, sebaliknya karbondioksida yang dikeluarkan oleh manusia dan hewan dibutuhkan oleh pepohonan. Itulah proses ekosistem yang merupakan mata rantai tak terputus, Namun sesuai perkembangan zaman saat ini, fenomena yang terjadi adalah kebutuhan yang tidak seimbang. Semakin tambah umur, jumlah manusia semakin banyak. Semakin luasnya area hutan yang digunduli, hewan hutan semakin punah dan dijadikan obyek bisnis. Oksigen yang dibutuhkan manusia dan hewan semakin menipis, sehingga udara semakin panas, kondisi tubuh manusia yang kekurangan oksigen semakin melemah. Akibatnya jasad manusia tak punya daya untuk menangkal kuman-kuman yang masuk. Selain itu, jumlah pepohonan yang semakin sedikit, mengakibatkan kelebihan air yang ada di bumi diserap ke bawah tanah dan luber meluas ke mana-mana, membawa petaka. Salah siapa ?.

BANJIR & LONGSOR

Akibat berbagai pelanggaran manusia yang telah merusak mata rantai kehidupan, maka luapan air dan tanah longsor terjadi di mana-mana yang merupakan malapetaka bagi penghuni bumi. Rasulullah SAW menegaskan : "Barangsiapa mengumpulkan harta dengan tidak sewajarnya (tidak benar), maka Allah akan memusnahkannya dengan air (banjir) dan tanah (longsor)." (H.R. Al Baihaqi).


AIR ZAM-ZAM

Air dari langit berbeda dengan air zamzam. Di samping untuk keberkahan bagi warga Makkah, Allah SWT telah menjadikan air zamzam untuk menjamu bagi para tamu Allah. Yang sangat meng-herankan, air zamzam tidak pernah surut, walau diambil berapapun dan dibawa hambaNya ke seluruh dunia. Tidak akan ada luapan banjir ke permukaan bumi walaupun dibiarkan. Juru kunci Yahya Kausyak menceritakan peng-alamannya yang memukau, bahwa pada tahun 1400 H atau 1980 M, sumur zamzam dibersihkan dengan cara menyedot 24 jam nonstop dengan 4 unit pompa air berdaya sedot 8 ton per menit. Ketika mencapai kedalaman 13,39 m aliran air dan pompa terhenti. Namun sesudah itu, air memancar kembali dari sumbernya dengan suara yang memekakkan telinga. Jumlah yang tak terbayangkan, air semakin deras naik kembali pada ketinggian hampir 4 meter selama 11 menit. Permukaan air zamzam sampai mulut sumur setinggi 3,23 m, tetap stabil dan tidak luber. Subhanallah.

AIR LAUT

Allah juga menganugerahkan air laut di planet bumi ini berjumlah ± 1,4 milyar km kubik. Tiga per empat bumi telah diselimuti oleh air laut dengan kekayaan luar biasa, yaitu 100 x lipat kekayaan daratan. Pelayaran yang aman, kreasi dan kepandaian manusia juga dapat menuntunnya agar dapat meman-faatkan sumber daya laut, semuanya atas izin dan kasih sayang Allah. Allah mengingatkan : "Tuhanmu yang melayarkan kapal-kapal di laut untukmu, agar kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penyayang terhadapmu." (Q.S. Al-Isra' [17] : 66). Air laut yang membentang jagad raya telah ditundukkan Allah agar aman dalam pelayaran dan mudah mengambil berbagai jenis ikan sebagai karunia Ilahi. Namun kebanyakan manusia kurang pandai bersyukur atas kepatuhan air laut yang begitu luas dengan tenangnya melayani manusia. Terbukti ketika Allah mengujinya dengan kesulitan yang terjadi di laut. Mereka lebih mengutamakan mencari-cari ke-salahan dari pada solusi. Lebih sakral melestarikan tumbal dan sesaji dari pada tasyakur kepada Ilahi.

Firman Allah :

"Dan bila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih." (Q.S. [17] : 67).

PUNAHNYA AIR

Kelak akan terjadi suatu masa, bahwa manusia sudah tidak lagi mempedulikan lingkungan. Air se-bagai anugerah keberkahan dari Allah tidak disalurkan kepada pepohonan sebagai sunnatullah. Manusia akan menderita kesulitan yang dibuatnya sendiri. Petaka demi petaka akan menimpa. Akhirnya Allah akan menenggelamkan air ke dasar bumi. Sebaliknya isi perut bumi akan terburai keluar. Hadits dari Ad-Dahhak bin Muzahim :

"Sesungguhnya Allah akan meng-angkat air tawar sebelum hari kiamat, dan semua air akan meresap selain air zamzam. Bumi akan terurai isinya, termasuk emas dan perak………

MUSIBAH SEBAGAI MUHASABAH

Boleh jadi, musibah yang datang bertubi-tubi bukanlah sekedar ujian tapi peringatan. Tegoran bagi para pelanggar syariat. Kerusakan lingkungan telah terjadi di mana-mana, mewarisi generasi masa depan.

Allah SWT menegaskan :

"Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas syariat dari urusan itu, maka turutilah syariat itu, dan janganlah engkau turuti kemauan orang-orang yang tidak menge-tahui." (Q.S. Al-Jaatsiyah [45] : 18).

Allah telah mewahyukan Islam yang sempurna dan aturannya mudah dimengerti dan praktis diamalkan, selaras dengan kepentingan manusia, apapun keadaannya. Manusiapun sebenarnya ada yang ditugasi membuat aturan-aturan yang lebih rinci, namun sebagian ada yang melanggarnya. Mari kita tegakkan syari'at Islam, semoga Allah akan menjamin ketentraman, dan air akan tetap menjadi keberkahan sampai masa depan.